Wow, Afghanistan 'Belajar' Ketahanan Pangan di Indonesia

Ilustrasi. Panen padi. (Foto: Pixabay/Dezalb)

Arah -  Sepuluh pejabat Kementerian Pertanian, Irigasi, dan Peternakan Afghanistan mempelajari kebijakan ketahanan pangan dan gizi di sela-sela program pelatihan analisis kebijakan tersebut di Bogor dan Jakarta pada 7-11 November 2016.

"Indonesia memiliki struktur yang sangat bagus, termasuk adanya Badan Ketahanan Pangan di bawah Kementerian Pertanian serta keberadaan Dewan Ketahanan Pangan," kata Direktur Jenderal Koordinasi dan Perencanaan Program, Kementerian Pertanian, Irigasi dan Peternakan Afghanistan, Muhammad Shakir Mujeedi, di Jakarta, Jumat (11/11).

Baca juga:

Pingin Lihat Dunia Virtual di YouTube VR? Nih, di Sini!

Waduh, Foto Ganjar 'Tidur Pulas' di Kereta Meledak Jadi Viral

Gua Berusia 30 Juta Tahun Ditemukan, Isinya... Masya Allah!

Pihaknya ingin mengembangkan kedua institusi di Afghanistan. "Saat ini kami tidak memiliki instansi khusus ketahanan pangan di bawah kementerian," ujarnya.

Mereka mempelajari beragam topik berkaitan dengan kebijakan ketahanan pangan pemerintah Indonesia, termasuk ketersediaan dan kerawanan pangan, sistem peringatan dini ketahanan pangan dan gizi, metode dan penilaian neraca pangan, konsumsi dan diversifikasi pangan, keamanan pangan, kebijakan distribusi pangan, dan pangan organik.

Afghanistan baru saja menyelesaikan kebijakan ketahanan pangan dan gizi serta sedang berusaha membentuk unit khusus yang menangani ketahanan pangan dan gizi di negara tersebut.

Mereka sempat mengunjungi Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) milik Kelompok Wanita Tani "Puspasari" di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kabupaten Bogor untuk mempelajari berbagai macam tanaman obat-obatan, sayuran, buah, dan palawija.

Shakir menjelaskan, bahwa 33 persen penduduk Afghanistan mengalami rawan pangan, sedangkan 14 persen penduduk kondisinya sudah tahan pangan, namun tetap rentan mengalami rawan pangan.

Kondisi rawan pangan yang parah tercermin dari malnutrisi yang meluas dan diperparah oleh kondisi kesehatan dan sanitasi yang buruk serta ketidakperdulian masyarakat terhadap lingkungan.

Lebih dari setengah balita di Afghanistan mengalami malnutrisi kronis dan kondisi gizi buruk. Hal ini menekan pendapatan domestik bruto (GDP) sebesar 2-3 persen per tahun.

Afghanistan juga mengalami kelangkaan pangan terutama gandum yang merupakan makanan pokok rakyatnya. Setiap tahun negara itu kekurangan 1,15 juta ton gandum yang menjadi salah satu penyebab kondisi rawan pangan secara nasional.

"Ini adalah pengalaman yang baik untuk kita, untuk saling berbagi pengalaman dengan Afghanistan," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Gardjita Budi.

Studi ini, diharapkannya dapat menambah pengetahuan dan pengalaman, terutama bagi para pejabat pemerintahan Afghanistan, untuk membangun dan mengimplementasikan kebijakan dan program ketahanan pangan di negaranya, untuk mencapai target SDGs pada 2030.

Berita Terkait:
Tahun 2050, 500 Ribu Nyawa Melayang karena Perubahan Iklim
Ini 3 Skenario Ketahanan Pangan Indonesia
Kisah Gadis Afghanistan Jadi Guru Anak Migran di Cisarua
Jusuf Kalla: Tahun 2018, Indonesia Harus Swasembada Pangan
Makna Idul Adha bagi Dua Menteri Jokowi

Berita Terkait

Tahun 2050, 500 Ribu Nyawa Melayang karena Perubahan Iklim Tahun 2050, 500 Ribu Nyawa Melayang karena Perubahan Iklim
Ini 3 Skenario Ketahanan Pangan Indonesia Ini 3 Skenario Ketahanan Pangan Indonesia
Kisah Gadis Afghanistan Jadi Guru Anak Migran di Cisarua         Kisah Gadis Afghanistan Jadi Guru Anak Migran di Cisarua

#pangan #Ketahanan Pangan #Kementerian Pertanian #Afghanistan

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar