Luar Biasa, Pelajar Indonesia di London Serukan Pesan Perdamaian

Ilustrasi burung merpati sebagai lambang perdamaian

Arah -  Mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Kerajaan Inggris menyerukan agar media di Tanah Air dapat menjadi 'agen perdamaian' dengan berperan dalam mendorong perdamaian dan toleransi serta sebaliknya mencegah berkembangnya konflik dan intoleransi.

Demikian kesimpulan "Indonesia Talk" yang digelar Lingkar Studi Cendekia United Kingdom bekerja sama dengan Indonesian Society School of Oriental and African Studies (SOAS) bertempat di kampus SOAS University of London di London, Rabu (22/3).

Baca Juga: Skandal Korupsi, Mantan Presiden Korsel Diperiksa 22 Jam
AS dan Koalisi Anti-Isis Gelar Pertemuan Bahas Penghancuran ISIS

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yakni Irfan Amalee, CEO Penerbit Mizan dan Inisiator Peace Generation, gerakan perdamian untuk anak-anak muda, dan Anton Alifandi, mantan wartawan the Jakarta Post dan BBC yang menetap di London dengan moderator Aghnia Adzkia, mahasiswi Indonesia yang sedang mengambil program Master of Digital Media di University of Goldsmith London.

Koordinator Lingkar Studi Cendekia, Zaki Arrobi mengatakan diskusi ini adalah ikhtiar mahasiswa Indonesia untuk ikut serta mendorong media agar lebih berperan dalam menjaga perdamaian dan toleransi di Indonesia.

Irfan Amalee, menceritakan pengalamannya bekerja membangun perdamaian dan memutus lingkaran kekerasan di kalangan anak muda melalui Peace Generation di Asia Tenggara.

Peace Generation didirikan untuk memutus siklus kekerasan terutama pada anak-anak muda yang rawan dimanipulasi ideologi ekstrimisme dan paham-paham yang tertutup, ujar penulis prolific yang tinggal di Bandung.

Irfan yang berkunjung ke Inggris mewakili Mizan Publisher untuk menghadiri London Book Fair sebelumnya juga sempat memberikan ceramah tentang media dan perdamaian di Oxford University dan Leeds University.

Sementara itu Anton Alifandi, menekankan generasi muda Indonesia yang mencintai perdamaian dan kemajemukan harus bekerja lebih keras untuk menghadapi `perang informasi' yang sedang terjadi.

"Kita harus memproduksi lebih banyak media dan informasi yang berorientasi pada pesan-pesan perdamaian dan toleransi, jika tidak ruang publik kita akan sesak dengan `fake news', `hoax', dan provokasi-provokasi negatif lainnya," dungkap Anton.

Berita Terkait

DPR RI Singgung Pemberitaan Media Bersifat Partisan DPR RI Singgung Pemberitaan Media Bersifat Partisan
Tak Semua WNI Harus Deposit Rp25 Juta saat Bikin Paspor Tak Semua WNI Harus Deposit Rp25 Juta saat Bikin Paspor
Lecehkan Bendera Negara, FPI Harus Rasakan Proses Hukum Lecehkan Bendera Negara, FPI Harus Rasakan Proses Hukum

#Jakarta #Dunia Pendidikan #Pesan Perdamaian #media

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar