Good Job! Mahasiswa Malang Bikin Alat Pemantau Kualitas Udara

Ilustrasi Polusi Udara (Foto:Antara)

Arah -  Tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) Malang, Jawa Timur, menciptakan teknologi yang mampu memonitor kualitas udara, yakni SMOQ.

Tiga mahasiswa yang tergabung dalam Tim Ex Change itu adalah Renal Prahadis, Muhammad Ulul Albab Iryanto dan Maulida Sabrina.

Renal Prahadis mengatakan SMOQ merupakan perpaduan perangkat keras dan lunak. Perangkat hardware terdiri atas alat pendeteksi kondisi udara dan mikrokontroller.

Sedangkan, software dibuat dalam bentuk aplikasi yang dapat dioperasikan pada perangkat mobile berbasis Android.

"Perangkat keras pendeteksi kondisi udara yang memiliki empat macam sensor diletakkan di daerah yang ingin diperiksa kualitas udaranya. Selanjutnya, alat tersebut akan berperan sebagai pendeteksi kulitas udara, kadar asap, karbon monoksida dan suhu udara," jelas Renal.

Selanjutnya, input data hasil deteksi tersebut kemudian disimpan dan dianalisis pada mikrokontroller dan hasilnya dikirimkan ke jaringan internet untuk kemudian dapat diakses melalui mobile device yang telah terinstal perangkat lunak SMOQ.

"Aplikasi perangkat lunak memungkinkan pengguna melihat informasi status kualitas udara. Ada tiga jenis status kualitas udara yang akan ditampilkan pada aplikasi SMOQ, yaitu normal, siaga dan waspada," kata Renal yang merupakan mahasiswa jurusan teknik komputer, dikutip Antara, Sabtu (25/3).

Baca Juga: Apple Produksi Ponsel di India, Harga iPhone Jadi Murah?
Ramai-ramai Perusahaan Besar Cabut Iklan di YouTube. Ada Apa?
Hebat! Mahasiswa Lampung Bikin Teknologi Anti Pecurian Helm
Ini Daftar Ritel dan Toko Online yang Buka Pre-order iPhone 7

Penentuan status berdasarkan input data dari deteksi sensor dan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang berlaku di Indonesia dan ditentukan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal).

"Kalau hasil analisis input data menghasilkan indeks akhir kurang dari 200, status kualitas udara normal. Kalau Indeks antara 200-300 berarti statusnya siaga. Untuk status waspada berarti kualitas udara sangat buruk, indeks kualitas udara menunjukkan angka lebih dari 300," urainya.

Renal mengakui pembuatan SMOQ ini lebih banyak ditujukan kepada pemerintah sebagai alat penyedia data untuk pengambilan keputusan atau kebijakan terkait pemeliharaan lingkungan. Meski demikian, masyarakat umum juga bisa menggunakannya untuk keperluan pribadi.

"Alat ini bisa langsung menganalisa data dari beberapa hardware detector yang diletakkan di beberapa tempat berbeda dan mengambil rata-rata kualitas udara di cakupan wilayah tertentu."

"Jadi pemerintah bisa mengetahui daerah mana saja yang memiliki kadar polusi tinggi dan mengambil tindakan penyelamatan atau pencegahan," papar Renal.

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Bikin Haru! Cerita Ayah Bikin Tangan Bionik Untuk Anak Bikin Haru! Cerita Ayah Bikin Tangan Bionik Untuk Anak
Pria Ini Bikin Robot Berparas Secantik Scarlett Johansson Pria Ini Bikin Robot Berparas Secantik Scarlett Johansson
Wow! Printer 3D Ini Mampu Cetak Pizza dalam 6 Menit Wow! Printer 3D Ini Mampu Cetak Pizza dalam 6 Menit

#Jakarta #polusi udara #Teknologi Kesehatan #Perkembangan Teknologi #teknologi

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar