Ini Alasan Kenapa Bulan Rajab Disebut Bulan Haram

Umat muslim melaksanakan salat tarawih pertama di Mesjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Aceh, Minggu (5/6). Kementerian Agama melalui sidang isbat menetapkan 1 Ramadan 1437 H jatuh pada hari Senin, 6 Juni 2016 bagi umat Islam di Indonesia. (Foto: Antara/Rahmad)

Arah - Bulan Rajab dalam penanggalan Islam (qomariyah) masuk dalam bulan ke tujuh. Terdapat sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni Isra Mi’raj Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam pada 27 Rajab. Dari peristiwa itu, akhirnya turun perintah salat lima waktu.

Dalam Islam terdapat empat  bulan haram (mulia), yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab. Dinamakan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At Taubah:36)

Hukum Puasa Rajab

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Tanggal 27 Mei
Penting, Ini Keutamaan Puasa Bulan Asyura

Sejumlah hadist Nabi menganjurkan berpuasa pada bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Hadits-hadits tersebut cukup menjadi hujjah mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Disebutkan dalam Kitab Kifayah al-Akhyar, bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab dan  Muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan Muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah Muharram adalah Rajab.

Sementara menurut as-Syaukani dalam Kitab Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa.

Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori Al-Asyhur Al-Fadhilah di samping Dzulhijjah, Muharram dan Sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum  di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Sementara terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim). (sumber NU Online)

Berita Terkait

Ngadu Nasib ke Rumah Lembang, Pasukan Orange Gagal Temui Ahok Ngadu Nasib ke Rumah Lembang, Pasukan Orange Gagal Temui Ahok
Terkait Dana Bansos, Mpok Sylvi Penuhi Panggilan Bareskrim Polri Terkait Dana Bansos, Mpok Sylvi Penuhi Panggilan Bareskrim Polri
Benarkah Pertemuan dengan Rizieq Dongkrak Elektabilitas Anies? Benarkah Pertemuan dengan Rizieq Dongkrak Elektabilitas Anies?

#Jakarta #puasa rajab #rajab #isra mi'raj #rasulullah saw

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar