Ini Langkah 'Tobat' Lion Air Usai Dipanggil Kemenhub

Pesawat Lion Air/Foter/Christian Junker

Arah -  Maskapai penerbangan Lion Air mendapat ultimatum keras oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, usai kebocoran tangki Avtur di Bandara Internasional Juanda Surabaya dan penundaan penerbangan (Delay) yang terjadi di beberapa wilayah.

Usai ultimatum itu, Lion Air berjanji melakukan pembenahan dalam waktu dua bulan terkait pelayanan dan keselamatan penumpang.

Managing Director Lion Air Daniel Putut Kuncoro Adi, mengatakan hal terpenting dalam perbaikan ini adalah terkait sistem keamanan dan perlindungan konsumen.

"Sesuai yang disampaikan pak Dirjen, kami akan melakukan investigasi internal terkait dengan beberapa kejadian khususnya terkait safety dan security, karena itu yang paling penting," ujar Daniel, saat ditemui di Jakarta, Senin (3/4).

Daniel berjanji akan melakukan pemeriksaan terkait kasus overfill di pesawat Boeing 3737 NG di Bandar Udara Juanda, Surabaya.

"Jangan sampai safety itu terganggu, sehingga kita melakukan investigasi terkait kasus overfill yang terjadi di Surabaya yang sempat viral di internet," ujar Daniel.

Baca Juga: Hebat! Jika Kamu Bisa Temukan Wajah Pria di Lukisan Beruang Ini
Kemendikbud Klaim UNBK Kurangi Kecurangan Ujian Nasional
Begini Cara Anies Baswedan Balas Tudingan Timses Ahok
XL Prediksi 4 Tahun Lagi Indonesia Bisa Nikmati 5G

Tidak hanya investigasi, Lion Air juga akan melakukan manajemen komitmen. Itu sesuai dengan hasil pertemuan dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sebagai regulator.

"Kami menindaklanjuti pertemuan tadi, kami buat manajemen komitmen," ujarnya.

Manajemen komitmen itu berisi beberapa aturan, di antaranya terkait kekuatan crew atau ketersediaan crew pesawat yang sudah ditetapan pemerintah yaitu 1 berbanding 3,5 persen.

"Namun, Lion Air justru akan menaikkan lebih dari itu yaitu sekitar 1 berbanding 5. Sehingga kebutuhan awak pesawat khususnya pilot dapat membantu operasional kami dengan lancar," jelas Daniel.

Maksud dari 1:3,5 dan 1:5 adalah bagaimana ketersedian crew pesawat dalam hal ini pilot. 1:5 berarti jika sebuah maskapai memiliki 2 pesawat maka, maskapai itu diwajibkan memiliki 20 pilot, sama halnya dengan 1:3,5.

Selain itu, Lion Air juga sudah menempatkan pesawat stand by, khususnya terkait kota-kota yang mengalami kendala pada beberapa bukan terakhir saat ini.

Tak cuma itu, selanjutnya maskapai yang didirikan oleh Rusdi Kirana tersebut juga mengklaim sudah melakukan pertemuan lebih intensif kepada para pabrikan pesawat, seperti Airbus dan Boeing.

Hal lainnya yang dilakukan Lion Air adalah perbaikan sistem rotasi, customer care, sistem kompensasi yang jelas, unit pengaduan di setiap bandara, hingga pembentukkan ICAT (Immagatly Conektif Action Plane). (Dini Afrianti)

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Komisi V DPR: Manajemen Lion Air Tidak Profesional Komisi V DPR: Manajemen Lion Air Tidak Profesional
Sering Delay dan Bahayakan Penumpang, Ini Kata Lion Air Sering Delay dan Bahayakan Penumpang, Ini Kata Lion Air
Terkait 'Delay', Kemenhub Panggil Lion Air Besok Jam 10 Pagi Terkait 'Delay', Kemenhub Panggil Lion Air Besok Jam 10 Pagi

#Jakarta #Manajemen Lion Air #Lion Air #Kemenhub #Pesawat Delay #Maskapai Penerbangan

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar