Miris! Empat Faktor Ini Ungkap Kekalahan Ahok-Djarot

Lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI), Rabu (19/4/2017). (foto/Arah.com/Nugie)

Arah -  Hasil hitung cepat (Quick Count) sementara dari berbagai lembaga survei pasangan Calon Wakil Gubernur dan Calon Wakil Gubernur nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno unggul.

Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyatakan, terdapat empat faktor yang menjadikan pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat kalah telak pada Pilkada DKI putaran kedua.

"Faktor tidak efektifnya mesin politik dalam bekerja dan performa komunikasi politik calon gubernur yang ekstrim berlawanan dengan kondisi sosiologis masyarakat atau pandangan umum masyarakat adalah faktor utama kekalahan," kata Ubedilah kepada Arah.com di Jakarta, Rabu (19/4/2017).

Baca Juga: Ini Pesan Ahok untuk Anies Baswedan
Banyak Pelanggaran, Timses Ahok: Kami Akan Tindaklanjuti
Unggul Telak Hasil Quick Count, Anies Sampaikan Pidato Kemenangan

Ubedilah menjelaskan, faktor pertama mesin politik pasangan Ahok-Djarot tidak bekerja maksimal. Secara kuantitas memang didukung dengan enam partai politik seperti PDIP, Nasdem, Hanura, Golkar, PKB dan PPP dan mantan relawan yang sudah teruji pada Pilkada DKI 2012 lalu. Sementara Anies-Sandi hanya didukung oleh lima partai politik seperti Gerindra, PKS, PAN, Perindo, dan Partai Idaman. Serta relawan dan simpatisan.

Lanjutnya, faktor kedua melimpahnya dukungan finansial yang dimiliki Ahok-Djarot tidak digunakan untuk agenda-agenda pemenangan secara efisien.

Ini bisa dicermati dari pembiayaan yang besar untuk mengadakan acara-acara live seperti Ahok Talkshow di berbagai media sosial tetapi tidak berbuah pada meningkatnya elektabilitas pasangan Ahok-Djarot.

Selain itu, faktor ketiga komunikasi publik Ahok yang tidak santun dihadapan publik menimbulkan kemarahan massa diantaranya yang paling fenomenal adalah terkait pernyataanya mengenai Almaaidah 51 di kepulauan seribu pada september 2016. Dalam konteks sosiologis politik nampaknya cara komunikasi santun jauh lebih diterima warga Jakarta.

Ubedilah melanjutkan, faktor keempat yakni mengenai video kampanye yang mengesankan umat Islam intoleran (lakukan kekerasan) dan operasi bagi-bagi sembako di hari tenang yang dilakukan oleh sekelompok relawan atau simpatisan yang menggunakan simbol baju kotak-kotak. Ini menimbulkan kesan negatif terhadap pasangan Ahok-Jarot yang justru mengurangi elektabilitasnya.

"Ternyata secara sosiologis warga DKI Jakarta butuh pemimpin yang tidak kasar dan tidak arogan," jelasnya.

Lebih lanjut, Ubedilah menyatakan video kampanye Ahok-Djarot yang menggambarkan umat Islam mempunyai sifat keras dan intoleran tersebut justru sangat menurunkan perolehan suara dari umat muslim, lantaran mengingatkan warga muslim dalam kasus Almaidah 51 yang sedang di jerat Ahok. (Muhamad Ridwan)

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Mengejutkan, Ini Jawaban Setnov Soal Jabatan Ahok Pascalengser Mengejutkan, Ini Jawaban Setnov Soal Jabatan Ahok Pascalengser
Sisa Enam Bulan, Ini Janji Ahok untuk Warga DKI Sisa Enam Bulan, Ini Janji Ahok untuk Warga DKI
Presiden PKS Terima Bocoran Soal Kegiatan Tamasya Almaidah Presiden PKS Terima Bocoran Soal Kegiatan Tamasya Almaidah

#Jakarta #Pilkada Putaran ke-2 #Pilkada DKI Putaran Kedua #Hasil Quick Count DKI #ahok kalah

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar