Sama-sama Usung Khalifah, Ini Beda HTI dan ISIS

Hasil survei 'NKRI dan Isi Penilaian Massa Publik Indonesia' di Jalan Cisadane nomer 8, Cikini Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (4/6/2017).

Arah -  Meski sama-sama memiliki cita-cita yang sejalan, yakni mengusung konsep sistem pemerintahan khilafah baik di dalam maupun di luar negeri, ormas islam Hitzbut Tahrir Indonesia (HTI) memiliki perbedaan dengan organisasi islam radikal ISIS.

Ketua Lembaga Survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Prof Saiful Mujani mengatakan perbedaan mendasar antara ISIS dan HTI yakni terletak pada cara, metode penyebaran serta perekrutan.

"Jika ISIS melalui metode kekerasan dengan senjata, maka HTI menggunakan cara yang lebih damai yaitu, pembelajaran," kata Saiful Mujani di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (4/6)

"(Penyebaran paham HTI) caranya dengan cara yang damai. Sementata ISIS mengangkat senjata. Walaupun tidak persis sama ISIS, tapi ujungnya kurang lebih sama ingin menegakkan khilafah. Walaupun itu versi yang berbeda dari ISIS," lanjutnya.

Saiful Mujani menyampaikan alasan mengapa HTI lebih damai, karena asal muasal HTI memang pada dasarnya adalah produk lokal yang terpengaruh oleh ajaran-ajaran adat dan tradisi negara timur tengah.

"Lain dengan HTI yang mungkin produk yang lebih lokal dan itu juga terpengaruh oleh dari Timur Tengah, tapi komponen lokalnya lebih banyak pelaku-pelaku banyak lokal," ungkap Saiful.

Baca Juga: Luapan Emosi Bobotoh Persib Usai Takluk dari Bhayangkara FC
Ariana Grande Kumpulkan 34 Miliar untuk Korban Teror Inggris

Hal ini juga sesuai sebagaimana hasil survei SMRC menjelaskan bahwa HTI tidak sepopuler HTI di Indonesia, meskipun HTI adalah produk lokal Indonesia, dengan hanya presentasi 28,2 persen masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang HTI, berbanding terbalik dengan ISIS yang hampir semua masyarakat Indonesia mengenal ISIS dengan jumlah presentase sebesar 66,4 persen.

Jika ISIS ditentang sebagaimana nilai nasionalisme yang dimiliki masyarakat Indonesia, berbeda dengan HTI bahwa jiwa nasionalisme bukan menjadi penyebab masyarakat Indonesia antipati terhadap HTI.

Namun berdasarkan hasil temuan kesimpulan survei mengatakan bahwa yang memperlemah HTI adalah komitmen demokrasi rakyat Indonesia, kondisi positif ekonomi, politik, hukum dan kemanan di Indonesia. Sebaliknya, jika kondisi di Tanah Air negatif maka dapat memperkuat dukungan HTI untuk mnegusung sistem khilafah.

Oleh karena itu, jika kondisi pemerintahan Indonesia disetiap aspek melemah maka akan membuat HTI kembali tumbuh dengan menerapkan konsep khalifah.

Namun di balik itu semua, ada nilai positif yang dimiliki HTI dibanding ISIS yakni dimana terdapat 13,6 persen yang menolak pembubaran HTI lebih besar daripada yang mendukung ISIS yang hanya sebesar 2,8 persen mengatakan ISIS tidak boleh ada di Indonesia.

"HTI ini kembali kepada arah negara yangg benar lebih sedikit dibanding arah yang salah," jelas Saiful.

Sehingga berbeda dengan HTI yang memiliki hubungan dengan dengan kondisi Indonesia. ISIS sepakat ditentang hampir seluruh masyakat Indonesia dan tidak ada hubungan ekonomi, politik, hingga hukum.

"Kalau ISIS tidak bisa di segmentasi, karena itu tadi seperti yang saya jelaskan, baik orang yang ekonominya kurang maupun yang cukup itu semuanya anti ISIS cuma hanya satu orang yang kurang nasionalis yang anti terhadap NKRI itu," pungkas Saiful Mujani, (Dini Afrianti)

Video Trending Pilihan Redaksi:

----

Berita Terkait

16 WNI yang Ditangkap Densus 88 Sempat Dideportasi Otoritas Turki 16 WNI yang Ditangkap Densus 88 Sempat Dideportasi Otoritas Turki
Puluhan Pemberontak Asing Mulai Masuki Kota Marawi Filipina Puluhan Pemberontak Asing Mulai Masuki Kota Marawi Filipina
Eks Teroris Sebut Kelompok ISIS Semakin Berkembang di Indonesia Eks Teroris Sebut Kelompok ISIS Semakin Berkembang di Indonesia

#Jakarta #ISIS #Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) #Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar