Survei SMRC: Orang Indonesia Bangga dan Siap Bela Keutuhan NKRI

Anak sekolah (Foto: Shutterstock)

Arah -  Lembagai survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) baru saja merilis hasil survei yang melihat hubungan antara NKRI dan ISIS. Terungkap bahwa paham fundamentalis dan nasionalis dapat menjadi penenti berhasil masuk atau tidaknya ISIS ke Tanah Air.

Menurut Ketua SMRC, Prof Saiful Mujani, kategori aspek nasionalis ini ditandai dengan rasa bangga terhadap Indonesia, yang dapat menjadi tameng masuknya paham radikal seperti ISIS.

"Orang yang tidak bangga dengan Indonesia dia cenderung menerima ISIS. Orang mungkin menerima ISIS karena tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Sehingga ISIS punya hubungan dengan fundamentalis yang cenderung berhubungan," ujar Saiful Mujani.

Baca Juga: Sama-sama Usung Khalifah, Ini Beda HTI dan ISIS
Ariana Grande Kumpulkan 34 Miliar untuk Korban Teror Inggris

Sebanyak 62,5 persen masyarakat Indonesia sangat bangga menjadi warga negara Indonesia dan 36,5 persen yang mengatakan cukup bangga. Dengan demikian, dapat dikatakan hampir semua warga bangga menjadi orang Indonesia.

Aspek nasionalis ini juga terlihat dari kesiapan warga Indonesa untuk menjadi relawan menjaga keutuhan NKRI. Sebanyak 26,9 persen sangat bersedia dan 57,6 persen bersedia untuk membela keutuhan NKRI.

"Indonesia sudah ada sumber daya (manusia)-nya sudah melimpah (untuk menjaga keutuhan NKRI)," tegas Saiful.

Tidak hanya itu, tingginya rasa cinta warga terhadap Tanah Air ini juga membuat masyarakat Indonesia percaya bahwa NKRI tidak lantas menjadi lemah dengan adanya ancaman teror ISIS. Bahkan hasil survei menyebut, 57,4 persen masyarakat Indonesia tidak setuju jika saat ini NKRI menjadi lemah dan terancam bubar dengan adanya isu-isu memudarnya nilai Pancasila dalam masyarakat.

Sebaliknya, hanya 12,6 persen warga Indonesia yang mengatakan kekuatan NKRI sedang goyah dan melemah.

"Kebanyakan tidak masalah dan jangan takut, ada yg cemas sekitar 12 persen. Tapi kita tidak bisa mengabaikan 60 persen tersebut yang optimistis. Kecemasan ini bukan menolak NKRI, justru dia khawatir, mungkin dia kritis tidak menerima begitu saja," papar Saiful.

Saiful menambahkan, hanya 14,5 persen warga Indonesia yang merasa NKRI dalam bahaya. Selebihnya masih optimistis, NKRI masih negara besar dan kuat yang mampu menghadapi segala ancaman perpecahan.

Meski demikian, Saiful tak menampik bahwa memang Indonesia sedang mengalami berbagai permasalahan. Tetapi dukungan dan energi positif dari masyarakat juga tidak boleh diabaikan.

Terbukti setelah adanya bom di Kampung Melayu beberapa waktu lalu, yang terjadi justru masyarakat malah asik berfoto di sekitar lokasi kejadian.

"Masa kita bilang bom itu tidak ada, jelas ada. Bahwa tindakan intoleransi tidak ada, ya ada. Cuma yang harus diketahui oleh publik semua, termasuk orang pelaku-pelaku teror dan sebagainya itu masyarakat semuanya itu sebagai musuh anda semuanya," tandasnya. (Dini Afrianti)

Video Trending Pilihan Redaksi

----

Berita Terkait

16 WNI yang Ditangkap Densus 88 Sempat Dideportasi Otoritas Turki 16 WNI yang Ditangkap Densus 88 Sempat Dideportasi Otoritas Turki
Delapan Nelayan Indonesia Ditangkap Pihak Australia Delapan Nelayan Indonesia Ditangkap Pihak Australia
Ini Alasan Korea Utara Menolak Hasil Otopsi Jong-Nam di Malaysia Ini Alasan Korea Utara Menolak Hasil Otopsi Jong-Nam di Malaysia

#Jakarta #Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) #Warga Negara Indonesia (WNI) #Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar