Terjebak Macet Arus Mudik, Pemasok Sayur Rugi Puluhan Juta Rupiah

Sejumlah warga membeli sayuran organik saat pasar sembako murah di Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (Balai PATP) jalan Salak, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/5). Pasar sembako murah yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian yang menyediakan beras Rp. 7.500/kg, cabai merah Rp. 8 ribu/500 gram, bawang merah Rp. 13 ribu/500 gram dan aneka produk pertanian lainnya. (Foto: Antara/ Arif Firmansyah)

Arah -Pemasok sayur mayur di Cianjur, Jawa barat, merugi hingga puluhan juta rupiah akiat kemacetan yang terjadi saat mudik dan arus balik Idul Fitri 1438 Hijriah.

Pasalnya sayuran yang seharusnya di pasok ke sejumlah kota di Jabodetabek terpaksa banyak dibuang karena membusuk sebelum berhasil dikirimkan. Saat mudik dan arus balik, volume kendaraan yang melintas ke Cianjur setiap harinya lebih dari 60 ribu kendaraan roda dua dan empat.

"Beberapa kali polisi memberlakukan sistem buka tutup dan satu jalur, sehingga arus sering terhenti untuk beberapa jam, sehingga sayur yang kami bawa tidak lagi segar bahkan sudah membusuk sebelum sampai," kata Ujang Ibin (40) seorang pemasok sayuran pada wartawan, Minggu.

Baca Juga: Tekan Harga Sembako, Sandiaga Resmikan Rumah Pangan OK OCE
Petani Kecewa Harga Gabah Anjlok

Dia menuturkan, saat musim mudik hingga arus balik, pemasok sayuran di Agro Cigombong, Cipanas, kesulitan mendistribusikan barang karena antrean panjang kendaraan yang terjadi setiap harinya di Jalur Puncak-Cipanas.

"Saya biasa mengirim sayuran ke sejumlah pasar tradisional di Jakarta, selama menjelang dan setelah Lebaran, pendistribusian menjadi sulit karena macet total terjadi," katanya kepada Antara

Macet total membuat pendistribusian tidak dapat dilakukan setiap saat seperti hari biasa, akibatnya sayuran yang berada di terminal sayuran Cigombong mengalami kerusakan hingga membusuk. Sayuran yang cepat membusuk seperti sawi putih, sawi hijau, tomat dan sayuran dengan kadar air tinggi lainnya.

"Ada yang sampai busuk di terminal Cigombong, ada juga yang busuk di jalan. Jadi kadang ketika sampai hanya setengahnya yang diterima pemesanan karena melihat kondisi bagus atau tidak," katanya.

Dia menilai satu pemasok biasanya mendapat untung dari setiap pengiriman Rp 3 juta sampai Rp 5 juta, namun selama musim mudik dan balik pemasok pmengalami kerugian yang cukup besar."Tinggal ditotalkan saja, berapa kerugian selama beberapa hari tidak mengirim," katanya.

Dia dan puluhan pemasok di Agro Cigombong, berharap pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan jalur Puncak II sebagai solusi kemacetan yang setiap tahun terjadi di wilayah tersebut agar perekonomian warga tetap berjalan dengan lancar.

Video Trending Pilihan Redaksi

Berita Terkait

Waspada! Ini Titik Rawan Kecelakaan di Jalur Mudik Purwakarta Waspada! Ini Titik Rawan Kecelakaan di Jalur Mudik Purwakarta
Macet Arus Mudik, Ini Cara Polisi Urai Kepadatan di Rest Area Macet Arus Mudik, Ini Cara Polisi Urai Kepadatan di Rest Area
YLKI: Antrean Toilet 'Rest Area' Timbulkan Kemacetan Baru YLKI: Antrean Toilet 'Rest Area' Timbulkan Kemacetan Baru

#Jakarta #Arus Mudik #Kemacetan Kendaraan #Pemasok sayuran #Rugi

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar