Benarkah Langkanya Garam Karena Gengsi Politik? Ini Kata Pakar

Para pengungsi Rohingya saat bekerja memikul garam, Bangladesh, 12 April 2017. (REUTERS / Mohammad Ponir Hossain / Files)

Arah -  Ketua Ikatan Alumni IPB periode 2008-2013, Muhammad Said Didu buka-bukaan terkait, langkanya garam di Indonesia yang menyebabkan melambungnya harga dapur (konsumsi) lebih dikarenakan langkanya garam industri.  

"Garam ini agak bombastis politis, garam ini diawal pembicaraan ada garam industri dan garam dapur, sehingga tidak ada produksi (garam industri) tinggal keruk saja (garam konsumsi)," ujarnya dalam satu acara diskusi di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/5/2017).

Said Didu mengatakan, bahwa jenis garam dapur atau garam konsumsi rumah tangga sebenarnya tidak mengalami kelangkaan, namun karena banyaknya di ranah industri garamnya diproduksi sedang menurun dan kelangkaan, maka yang terjadi justru bukannya pemerintah melakukan impor untuk garam produksi,  akan tetapi garam konsumsilah yang digunakan.

"Di industri ada yang betul-betul street kualitas, dia campur garam konsumsi juga sehingga produksi menggunakan garam konsumsi juga," jelas mantan sekretaris Kementerian BUMN tersebut.

Baca Juga: Masih Bocah, Penyanyi Dangdut Koplo Ini Bikin Netizen Salah Fokus
Horor! Tak Cuma Annabelle, Deretan Boneka Ini Juga Dirasuki Roh
KTPnya Bikin Warga Karawang Geger, Netizen: Gak Enak Manggilnya

"Ini untuk menghasilkan garam industri, costnya sangat besar," tambahnya.

Terlebih kata Didu, ia menjelaskan bahwa memang pada dasarnya pemerintah telah mengetahui hal ini kan terjadi, akan tetapi karena adanya gengsi politik yang dimiliki pemerintah, hingga sampailah ini ke permukaan publik.

"Produksi ini sudah dapat memonitor tahun depan, sehingga datanya sudah ada. Sebenarnya kalau datanya bagus bukan karena gensi politik ini tak terjadi, sebenarnya data itu pemerintah sudah tahu tahun lalu, akhirnya harga naik," paparnya.

Untuk itulah, sebagai pengamat dirinya menyarankan kepada pemerintah untuk memberikan kebijakan yang dapat menguntungkan petani garam dengan sebuah keharusan dimana pemerintah memiliki persediaan garam.

Sedangkan persediaan garam ini, tidak akan terjadi apabila terjadi kelangkaan garam industri sehingga garam dapur diperlakukam sebagai subtitusi atau pengganti, untuk itulah pria yang pernah menjabat sebagai ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) tersebut menyarankan pemerintah untuk impor garam produksi.

"Mari sederhanakan pemikiran tentang garam, garam industri udahlah impor dan garam konsumsi tidak perlu jaga gengsi bahwa ada masalah di cuaca, jangan karena gengsi,". pungkasnya.  (Dini Afrianti)

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Soal Dana Kampanye, Timses Paslon Pilgub DKI Saling Sindir Soal Dana Kampanye, Timses Paslon Pilgub DKI Saling Sindir
16 WNI yang Ditangkap Densus 88 Sempat Dideportasi Otoritas Turki 16 WNI yang Ditangkap Densus 88 Sempat Dideportasi Otoritas Turki
Pilgub DKI Diikuti Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot Saja, Siapa Unggul? Pilgub DKI Diikuti Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot Saja, Siapa Unggul?

#impor garam #garam #Said Didu #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar