Ribuan Warga Lereng Merapi Upacara Tradisi 'Sadranan'

Warga mengambil makanan saat Tradisi Sadranan di Pemakaman Desa Sukabumi, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (24/5). Tradisi Sadranan yang telah dilakukan turun-temurun saat bulan Ruwah menjelang bulan Ramdan tersebut dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai ajang silahturahmi antar warga dan keluarga serta mendoakan leluhur secara bersama. (ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho)

Arah - Ribuan warga lereng Gunung Merapi mengikuti upacara tradisi "sadranan" menjelang Bulan Puasa di Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa.

Mereka menuju pemakaman umum Puroloyo di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo sambil membawa tenong atau wadah dari anyaman bambu berbentuk bundar, berisi aneka makanan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat umum.

Upacara tradisi diawali dengan doa bersama yang dipimpin seorang pemuka agama desa setempat, Kiai Haji Muhammad Suparno. Di tempat itu, mereka mendoakan para leluhur dan bersyukur atas limpahan kemakmuran dari Tuhan yang diberikan kepada masyarakat.

Seorang tokoh masyarakat setempat Maskuri mengatakan tradisi "sadranan" sebagai cara berdakwah Walisongo. Para wali mengutus muridnya yang bernama Kiai Haji Ibrahim ke daerah itu. Ibrahim kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum Puroloyo.

"Para keturunan Kiai Ibrahim yang melanjutkan tradisi itu, hingga sekarang oleh masyarakat di Sukabumi," katanya, seperti dilansir Antara.

Setelah berdoa, mereka kemudian membagikan makanan, aneka kue khas, atau jajanan pasar yang menggambarkan kemakmuran hasil bumi masyarakat sekitar.

"Upacara ritual 'sadranan' dengan membawa makanan untuk dibagikan warga yang tidak mampu ini, merupakan tradisi yang dilakukan sejak para leluhur, cikal bakal, zaman penyebaran agama Islam di desa ini," katanya.

Hingga saat ini, warga setempat setiap menjelang puasa melakukan tradisi tersebut. Mereka datang dari berbagai kota, pulang ke kampung untuk mengikuti tradisi tersebut.

Dia menyebut tenong yang dibawa warga ke tempat upacara tahun ini, sekitar 900 unit atau meningkat seklitar 200 unit dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal itu menandakan kesejahteraan masyarakat di Desa Sukabumi semakin meningkat.

Bahkan, katanya, masyarakat yang pulang kampung untuk upacara "sadranan" justru lebih banyak jika dibandingkan dengan saat Idul Fitri atau Lebaran.

"Pengunjung pada upacara 'sadranan' bisa mencapai 1.500 hingga 2.000 orang," katanya.

Setelah mengikuti upacara "sadranan", mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan pintu rumah terbuka sebagai tanda kesiapan menerima tamu, baik sanak-saudara maupun teman. Para tamu juga mendapatkan sajian makanan.

Murtini (54), warga Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, mengatakan keluarganya telah menyiapkan berbagai hidangan dalam tradisi "sadranan". Mereka bersilaturahim dan saling memaafkan sebelum memasuki Bulan Puasa.

"Setiap tamu bisa merasakan menu yang dihidangkan setiap rumah. Mereka seharian bisa berkunjung ke belasan rumah milik warga sekitar, sambil mencicipi menu yang dihidangkan," katanya.

Berita Terkait

Menyatu Dengan Alam Bersama Komunitas Pendaki Gunung (KPG) Menyatu Dengan Alam Bersama Komunitas Pendaki Gunung (KPG)

#Upacara Tradisi Sadranan #Tradisi Sadranan #Gunung Merapi

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar