Lembaga Pemeringkat Jepang Naikkan Peringkat Utang Indonesia

Ribuan kendaraan melewati ruas Tol Dalam Kota, di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (22/6). Suasana arus mudik di Tol Dalam Kota mulai padat, dan menurut prediksi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta jumlah pemudik dari DKI Jakarta mencapai 6,4 juta jiwa. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww/17.

Arah -  Lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating and Investment Information Inc (R&I), menaikkan peringkat surat utang Indonesia berdenominasi valas dari BBB- menjadi BBB, karena stabilitas perekonomian yang lebih terjaga dan daya tahan menghadapi guncangan ekonomi eskternal.

R&I dalam publikasinya yang dikutip Antara di Jakarta, Rabu, menyebutkan faktor kunci kenaikan peringkat utang Indonesia adalah kinerja ekonomi Indonesia yang dianggap semakin kuat, namun tetap stabil. Laju inflasi bisa dijaga rendah, serta defisit anggaran dan utang pemerintah masih dalam tingkat yang aman.

"Ketahanan ekonomi juga semakin baik dalam menghadapi gejolak eksternal, tercermin dari defisit transaksi berjalan yang rendah dan cadangan devisa yang besar," ujar dia.

Selain itu, pembangunan infrastruktur menunjukkan kemajuan realisasi yang turut mengundang perbaikan iklim investasi. R&I juga mengapresiasi peningkatan penerimaan pajak antara lain melalui penguatan basis data perpajakan.

Namun, R&I juga meminta pemerintah untuk terus menggenjot penerimaan karena persentase pendapatan terhadap PDB Indonesia masih relatif kecil. Padahal, Indonesia membutuhkan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur dan juga pengentasan kemiskinan.

Lebih lanjut, R&I meyakini bahwa kebijakan yang berfokus pada stabilitas makroekonomi dan rangkaian inisiatif reformasi struktural akan terus berlanjut di tengah berbagai agenda politik Pilkada 2018 serta Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden 2019.

R&I memandang tren pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berlanjut, dengan indikator inflasi di kisaran 3-4 persen, defisit transaksi neraca berjalan akan sedikit melebar pada kisaran dua persen, dan defisit fiskal akan berada di bawah tiga persen terhadap PDB.

Menyikapi pandangan R&I, Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo menyatakan kepercayaan dunia internasional terhadap perbaikan fundamental ekonomi Indonesia terus menguat.

Baca Juga: Menteri Ekonomi Jerman, Perketat Aturan Investasi Asing

"Perbaikan rating ke posisi BBB oleh R&I, yang merupakan ketiga kalinya setelah peningkatan rating oleh Fitch dan JCR, semakin mengukuhkan keyakinan dunia internasional atas kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat. Pengakuan tersebut didukung oleh efektivitas kebijakan Pemerintah dan otoritas dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta komitmen Pemerintah dalam mengimplementasikan reformasi struktural," kata Agus dalam keterangan tertulis dan dilansir Antaranews.

R&I sebelumnya memperbaiki prospek surat utang Republik Indonesia dari Stable menjadi Positive, sekaligus mengafirmasi rating pada BBB- (Investment Grade) pada 5 April 2017.

Berita Terkait

Rupiah Menguat 30 poin Menjadi Rp 13.317 Rupiah Menguat 30 poin Menjadi Rp 13.317
Cadangan Devisa Menurun untuk Stabilisasi Kurs Rupiah Cadangan Devisa Menurun untuk Stabilisasi Kurs Rupiah
Peluang Indonesia Hadapi Era Ekonomi Digital Peluang Indonesia Hadapi Era Ekonomi Digital

#Perekonomian #Ekonomi RI #Pertumbuhan Ekonomi #Ekonomi #Perekonomian Indonesia #Menteri Koordinator Perekonomian #Kemenko Perekonomian #Utang Negara #Surat Utang Negara (SUN) #Bank Indonesia #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar