Komoditas Perkebunan Jadi Gaya Hidup, Pemerintah Dorong Riset

Komoditas kopi (Pixabay)

Arah - Komoditas perkebunan nasional, seperti kopi, kakao, dan teh, telah menjadi tren gaya hidup (lifestyle) masyarakat tanpa mengenal batas usia dan gender. Pemerintah mendorong pengembangan riset dari sisi hulu dan hilir untuk menghasilkan komoditas berkualitas tinggi dan dapat bersaing di pasar global.

“Saya ingat pernah melakukan pengembangan riset komoditas perkebunan pada tahun 1980-an. Namun, hal ini berhenti dan tidak diteruskan. Padahal, komoditas-komoditas ini sangat berpeluang melahirkan tidak hanya lapangan usaha, tetapi juga entrepreneur yang dapat membangun sektor ini secara jangka panjang,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta.

Darmin menegaskan sektor perkebunan tanpa dibarengi pengembangan riset tidak akan berkembang secara optimal. Darmin juga menyoroti beberapa produk perkebunan berbasis kerakyatan yang sarat dengan kurangnya pengembangan riset untuk menghasilkan komoditas yang baik.

Di sisi lain, pengembangan riset hanya ditemukan di perkebunan milik perusahaan besar. Saat ini, pengembangan riset yang diperlukan sektor perkebunan berpusat pada riset benih, processing, dan budi daya komoditas itu sendiri.

“Akan menjadi kerugian tersendiri jika di sekitar perkebunan rakyat tidak ada pengembangan riset yang biasa dikembangkan oleh perusahaan besar dan pemerintah tidak mengambil langkah untuk mengisi kekosongan ini. Karena itulah, kami terus mendorong pengembangan riset untuk komoditas perkebunan ini,” tambah Darmin dilansir ekon.go.id.

Baca Juga: Jembatan Holtekamp Solusi Kepadatan Penduduk Jayapura
Jangan Sampai Salah, Ini Tips Memilih Mitra Bisnis

Kinerja komoditas kopi nasional pada 2018, dari sisi luas areal perkebunan mencapai 1.241.514 hektare dengan total produksi 722.461 ton. Potensi ini menjadi sebuah harapan besar mengingat saat ini kualitas kopi Indonesia dikategorikan sebagai kopi speciality, yakni kopi berkualitas yang telah melewati proses sesuai standar mulai dari hulu ke hilir.

Sementara untuk teh, produksi komoditas ini mencapai 141.342 ton dari luas areal 113.215 hektare sepanjang 2018. Potensi pengembangan teh sangat luas, tidak hanya untuk kesehatan tetapi juga sering digunakan untuk kosmetik.

Adapun, untuk coklat, Indonesia dapat menghasilkan jumlah produksi biji kakao pada 2018 mencapai 593.832 ton dari luas areal perkebunan 1.678.269 hektare. Potensi ini sangat besar mengingat kualitas kakao nasional dikenal dengan cita rasa yang tinggi yang yang berbasis geografis.

Berita Terkait

KUR Perikanan Rakyat Kembali Disalurkan Serentak ke 6 Provinsi   KUR Perikanan Rakyat Kembali Disalurkan Serentak ke 6 Provinsi
KEK Tanjung Kelayang Siap Jadi Destinasi Wisata Dunia KEK Tanjung Kelayang Siap Jadi Destinasi Wisata Dunia
Ini Perkiraan Inflasi Indonesia di Tahun 2017 Ini Perkiraan Inflasi Indonesia di Tahun 2017

#Kopi #Gaya Hidup #Perkebunan #Riset Indonesia #Kemenko Perekonomian #Darmin Nasution #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar