Legecy: Di Atas Menang Atau Kalah

Ilustrasi Gunung Everest (Pixabay)

Arah -  Ketika atlit marathon Dunia Ariana Luterman mau masuk finish di Dallas Marathon 2017 lalu. Dia dibayang-bayangi oleh Chandker Self. Tiba-tiba Chandker Self terjatuh. Spontan Atlit Ariana berbalik menolong atlit yang jatuh itu. Padahal dia hanya beberapa meter saja dari garis finish.

Dia bangunkan atlit yang jatuh itu. Dia bimbing menuju garis finish. Ariana biarkan atlit yang dia bimbing menyentuh garis finish terlebih dahulu. Jadilah dia mendapatkan medali perak. Dan atlit yang dia tolong mendapatkan medali emas.

Ternyata dunia lebih mengenang atlit yang menolong itu. Dunia mencatat apa yang dilakukan atlit Ariana itu dengan tinta emas. Apa artinya sebuah medali dibandingkan dengan sebuah nilai luhur yang akan dikenang seluruh ummat manusia. Ariana letakan kemenangan dibawah sebuah perilaku luhur.

“Saya hanya terpikir bagaimana membantu dia.” Begitu Kata Ariana ketika ditanya setelah menyelesaikan lombanya. Itulah legacy dari seorang atlit dunia.

Kita semua tahu bahwa orang yang pertama kali menaiki puncak Gunung Everest adalah Edmund Hillary. Tahukah anda di balik pendakian Gunung Everest itu ada kisah mengharukan.

Ketika pembawa barang Edmund, yang bernama Tenzing Norgay, tinggal 10 meter lagi dari puncak Everest. Sementara Edmund Hillary masih tertinggal di belakang. Dia berhenti. Dia tunggu Edmund dan membiarkan Edmund lewat. Dia ikuti Edmund dari belakang. Jadilah Edmund Hillary yang memuncaki Gunung Everest pertamakali di dunia.

Ketika Sang Pembawa barang ditanya. Mengapa tidak dia naik saja terus sehingga dialah yang menjadi orang pertama yang menaklukkan Everest. “Edmund Hillarry sangat berambisi memuncaki Gunung Everest. Dan saya hanya berambisi menjadi pembantu yang memuncaki Gunung Everest.” Begitu kata Tanzing ketika ditanya.

Apa yang dilakukan Tanzing itu dikenang dunia sebagai sebuah nilai luhur yang menembus semua dimensi. Dia tidak perlu menjadi orang pertama. Tapi dia memilih menjadi orang yang lebih bernilai dibanding dengan yang pertama. Itulah legecy dari seorang Pembantu.

Presiden Habibie memilih untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden karena pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat. Padahal kalau Habibie maju mencalonkkan diri sebagai presiden bisa saja menang mengingat keberhasilannya selama memerintah 17 bulan: nilai rupiah naik drastis dibanding dollar, ekonomi kembali stabil dan berhasil menyelenggarakan pemilu dengan tertib.

Ketika Presiden BJ Habibie ditanya mengapa tidak mencalonkan diri menjadi presiden? “Tidak etislah pertanggungjawaban saya ditolak terus tetap mencalonkan diri.”

Presiden Habibie memilih untuk tidak melanggar etika dibandingkan mengejar kekuasaan. Presiden Habibie meletakan etika di atas nafsu untuk berkuasa kembali. Presiden Habibie memilih menjadi negarawan sejati. Itulah legecy politik dari seorang tokoh dunia.

Saat ini kita sedang menghadapi pemilu yang menghadapkan dua calon presiden berhadap-hadapan. Sampai akhir masa kampanye kedua-duanya mengklaim akan menang. Pihak patahana merasa yakin karena survey-survey masih memenangkan dia.

Sedangkan penantang merasa yakin akan menang mengingat setiap kampanye dimana-mana selalu disambut gegap gempita tanpa rekayasa materi.

Siapa yang akan menang atau kalah tanggal 17 April nanti?

Wahai 01 dan 02. Ternyata hidup ini bukan hanya tentang kalah dan menang saja. Ada yang di atas keduanya. Sejauhmana kekalahan atau kemenangan Anda akan menjadi sebuah legacy.

Menang dengan terhormat atau kalah dengan terhormat. Menjauhkan diri dari sikap menghalalkan segala cara asal menang. Bercerminlah pada Ariana Luterman, Tenzing Norgay dan Presiden BJ Habibie.

Kita tunggu siapakah diantara 01 dan 02 yang akan memberikan Legecy.

*Ade Nurjaman

Berita Terkait

Survei: PDIP dan Gerindra Teratas, Bagaimana Nasib Partai Baru? Survei: PDIP dan Gerindra Teratas, Bagaimana Nasib Partai Baru?
7 Poin Imbauan Watim MUI Pasca-pemungutan Suara Pemilu 2019      7 Poin Imbauan Watim MUI Pasca-pemungutan Suara Pemilu 2019
Dituding Berpihak pada Politik Tertentu, Ini Bantahan Twitter Dituding Berpihak pada Politik Tertentu, Ini Bantahan Twitter

#pilpres 2019 #Pemilu 2019 #pemilu serentak 2019 #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar