Sebuah Renungan: IT KPU Kita Pernah Berjaya

Ilustrasi teknologi informasi (Pixabay)

Arah - “Bapak-bapak saya kasih waktu sampai magrib untuk memasukan server. Kalau tidak kita tidak akan memberi akses ke data KPU untuk ditayangkan.”
Begitulah ultimatum dari DR. Chusnul Mar’iyah, sebagai Komisioner Komisi Pemilihan Umum atau KPU yang membawahi Information Teknologi atau IT, kepada teman-teman televisi pada rapat sekitar pukul 14.00 di Kantor KPU suatu hari tahun 2004.

“Ingat ya tidak ada kompromi karena besok server KPU harus sudah clean.” Tambah Dr. Chusnul. Memang hari itu sudah beberapa hari menjelang pelaksanaan Pemilu tahun 2004.

Tinggallah temen-temen televisi membatu. Mereka berpikir keras bagaimana mengadakan server yang harganya bisa ratusan juta hanya dalam beberapa jam. Sempat pucat juga mereka. Setelah berunding sesama teman awak televisi. Akhirnya disepakati untuk urunan beli server yang akan ditanggulangi dulu oleh pihak PT Surya Citra Televisi atau SCTV.

Setelah ketahuan biayanya baru disharing semua televisi yang akan menayangkan. Maka pihak IT SCTV langsung ke Glodok. Dan Alhamdulillah menjelang magrib server sudah kita masukan ke tempat rak servernya KPU. Jadi kita akan dapat push data dari KPU untuk ditayangkan di televisi masing-masing.

Alhamdulillah keinginan teman-teman televisi kesampaian. Keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada pemirsanya terwujud. Masyarakat luas bisa mengontrol secara realtime detik demi detik penghitungan suara melalui layar kaca. Pertambahan suara di layar kaca benar-benar menjadi tontonan yang memberikan nafas keterbukaan KPU tentang penghitungan suara. Dan tontonan ini bisa disaksikan sehari setelah pemungutan suara.

Dalam sejarah Republik Indonesia itulah untuk pertama kalinya hasil penghitungan suara bisa disajikan kepada masyarakat secara terbuka melalui televisi secara realtime. Bahkan kata teman-teman yang pernah tinggal di negara-negara maju memuji pencapaian KPU kita ini. Ini menambah kepercayaan masyarakat terhadap KPU sebagai penyelenggara pemilu yang independen. Itu pada tahun 2004.

Pencapaian ini merupakan hasil diskusi panjang antara KPU dengan pihak media. Pihak media menginginkan hasil pemilu untuk disampaikan kepada masyarakat secepat mungkin. Tapi di lain pihak KPU ingin melindungi datanya agar tidak terganggu sehingga merusak data keseluruhan. Maka komprominya pihak media hanya akan dapat push data dari server KPU.

Penyajian data hitung cepat KPU ini bisa dilakukan karena input data dilakukan dari kecamatan langsung ke servernya KPU. Artinya KPU menyimpan computer di etiap kecamatan dengan fasilitas internetnya. Setelah diverikasi data dari kecamatan ini baru masuk dalam program penghitungan yang langsung publish. Sehingga data manual mendapatkan control dari data elektronik yang juga tayang di televisi. Dan juga sebaliknya.

Layak mendapat acungan jempol visi teman KPU jaman Dr. Chusnul Mar’iyah saat itu. Secara IT mereka berani melakukan terobosan padahal internet belum sebagus sekarang. Mereka berani menghadapi tantangan yang mencibir dari pihak luar yang meragukan kemampuan KPU dalam masalah IT ini. Bahkan mereka berani melakukan debat terbuka dengan pihak-pihak yang mengkritisi terobosan ini.

Tak ketinggalan mereka juga berani menantang hecker-hecker untuk pengamanan IT KPU ini. Tentu saja terobosan yang dilakukan oleh KPU ini didisain dan disupport oleh pakar-pakar IT dari ITB. Saya bisa sebut nama Sudirman yang banyak berhubungan dengan kami. Dialah eksekutor IT KPU pada saat itu yang menjadi tangan kanannya DR. Chusnul.

Jadi kalau melihat perkembangan IT KPU saat ini jadi mengelus dada. Betapa setiap tahun pengelolaan data KPU itu malah mundur. Mulai dari Daftar Pemilih tetap, daftar Caleg, hingga publikasi hasil penghitungan suara mengalami degradasi. DPT yang kontroversial hingga publikasi hasil penghitungan suara yang tidak jelas. Dimana salahnya?

Baca Juga: Legecy: Di Atas Menang Atau Kalah

Ketika menghadiri rapat dengan komisioner KPU yang menyelenggarakan Pemilu tahun 2009 masalah IT ini beberapa kali saya tanyakan. Dan ternyata infrastruktur yang dibuat KPU ini tidak berkesinambungan. Artinya setiap komisioner berganti maka anggaran infrastruktur pun baru lagi. Ketika saya tanyakan computer di kecamatan-kecamatan yang dipakai nginput data tahun 2004. Mereka tidak tahu. Makanya pada pemilu tahun 2009 input datanya malah mundur di Kabupaten.

Masalah infrastruktur KPU ini perlu menadapatkan perhatian yang serius dari semua pihak. Kualitas infrastruktur ini, kita rasakan, sangat berpengaruh besar terhadap kualitas penyelenggaraan Pemilu. Kita harus urun rembuk masalah infrastruktur pemilu ini agar kualitas penyelenggaraan pemilu ini semakin meningkat bukannya mundur. Jangan sampai kita tahu belakangan bahwa kemajuan yang kita capai hanya KOTAK SUARA DARI KARDUS DAN DIPASANGI GEMBOK. Lucu.

*Nurjaman Mochtar

Berita Terkait

Debat Kelima Capres Usung Persatuan dan Perdamaian Debat Kelima Capres Usung Persatuan dan Perdamaian
Format Debat Ketiga Pilpres 2019 Sedikit Berbeda Format Debat Ketiga Pilpres 2019 Sedikit Berbeda
Sebelum Nyoblos, Kenali Dulu 5 Jenis Surat Suara Pemilu 2019     Sebelum Nyoblos, Kenali Dulu 5 Jenis Surat Suara Pemilu 2019

#kpu #Pemilu 2019 #pemilu serentak 2019 #pilpres 2019 #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar