Inovasi Perkuliahan Harus Dilakukan di Era Revolusi Industri 4.0

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir (Foto:Ristekdikti)

Arah - Di era Revolusi Industri 4.0, metode perkuliahan di perguruan tinggi Indonesia harus lebih inovatif, antara lain dengan penggunaan media digital, teknologi Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AI), dan Artificial Intelligence (AI). 

Hai itu disampaikan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir saat menyaksikan Visual Learning “The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe” di Cinemaxx Studio 3, Lt. 5 Plaza Semanggi, Jakarta, pekan lalu.

Dia menyebut pembelajaran melalui video 3 Dimensi seperti yang dilakukan Universitas Pelita Harapan (UPH) di bidang kedokteran saat merupakan contoh yang baik untuk diterapkan di perguruan tinggi lain.

“Ini adalah satu contoh metode perkuliahaan yang dikembangkan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH) khususnya di bidang kedokteran. Artinya, kuliah yang sudah menggunakan Artificial Intellingence (AI) atau kecerdasan buatan, kuliah yang sudah menggunakan Virtual Reality dan Augmented Reality (AR), ini harus kita dorong terus supaya mahasiswa mendapatkan proses pembelajaran yang sempurna,” ujarnya.

Nasir mengungkapkan selama ini dosen membaca kemampuan hanya 80 persen dan hanya bisa diserap 40 persen. Dengan metode pembelajaran inovatif akan  bisa diserap 100 persen dengan baik. Metode pembelajaran ini, lanjut dia, bisa dikembangkan tidak hanya di bidang kesehatan saja tetapi seluruh bidang.

“Kalau metode ini sudah dikembangkan dalam bentuk film tiga dimensi (3D), seharusnya bisa dikembangkan lagi dalam metode online dan saya rasa akan jauh lebih baik kedepannya,” kata Nasir.

Baca Juga: Bamsoet Sarankan Kabinet Baru Beri Kesempatan Generasi Muda
Dinyatakan Meninggal, Pria di India Bangun Saat Akan Dimakamkan

Dia mengimbau pimpinan perguruan tinggi lain untuk mulai melakukan metode pembalajaran yang baru dan inovatif sehingga memudahkan mahasiswa dalam menyerap materi yang sulit sekalipun. 

“Saya rasa perguruan tinggi harus melakukannya, kalau kita tidak punya fasilitasnya karena biaya yang sangat tinggi, untuk itu saya selalu sampaikan untuk perguruan tinggi agar melakukan kolaborasi. Kalau tidak dengan kolaborasi rasanya itu akan sulit untuk dikembangkan,” tambah Nasir dikutip dari ristekdikti.go.id.

Dia menambahkan Kemenristekdikti sudah menerbitkan peraturan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk mengembangkan metode pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan memudahkan akses masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Berita Terkait

Saatnya Perguruan Tinggi Kembangkan Perkuliahan Online Saatnya Perguruan Tinggi Kembangkan Perkuliahan Online
Daftar Nama Korban Tewas Akibat Crane Jatuh Daftar Nama Korban Tewas Akibat Crane Jatuh
Jembatan Hamadi-Holtekam di Papua Terlebar di Indonesia Jembatan Hamadi-Holtekam di Papua Terlebar di Indonesia

#Kemenristek Dikti #Inovasi #kuliah #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar