KIARA: Korupsi di Sektor Perikanan Ibarat Gunung Es

Komisi Pemberantasan Korupsi (Foto:KPK)

Arah - Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menanggapi Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap kuota impor ikan. Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati menilai korupsi di sektor perikanan ibarat gunung es, terlihat sangat kecil tetapi yang tidak terlihat jauh lebih besar.

“Suap kuota impor Ikan Salem yang melibatkan Perum Perindo adalah salah satu kasus dari sekian kasus korupsi di sektor kelautan dan perikanan,” ujar Susan dalam siaran persnya.

Menurut Susan, KPK perlu mengembangkan penyelidikan ke kasus korupsi di sektor kelautan dan perikanan lainnya, khususnya pengesahan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) di 22 Provinsi di Indonesia.

“Di dalam Perda Zonasi, kebijakan pembagian ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sangat bias kepentingan bisnis,” ungkapnya.

Tak hanya mendorong untuk menyelidiki Perda RZWP3K, KIARA juga meminta KPK untuk menyelidiki pemberian kuota impor garam.

“KPK harus menyelidiki secara serius proses pemberian izin kuota impor garam, dimana setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan,” imbuh Susan.

Baca Juga: KPK Tetapkan 2 Tersangka Terkait Kuota Impor Ikan
Dalam 6 Bulan, KPK Selamatkan Rp28,7 Triliun

Secara umum, ke depan pemberantasan korupsi di sektor kelautan dan perikanan perlu menjadi agenda penting. Namun, agenda ini memiliki tantangan serius setelah disahkannya Revisi UU KPK, yang terbukti melemahkan lembaga anti korupsi ini.

Berita Terkait

KPK Tetapkan 3 Tersangka Suap Lelang Proyek PUPKP Yogyakarta     KPK Tetapkan 3 Tersangka Suap Lelang Proyek PUPKP Yogyakarta
KPK Tetapkan 2 Tersangka Terkait Kuota Impor Ikan KPK Tetapkan 2 Tersangka Terkait Kuota Impor Ikan
KPK Tetapkan 7 Tersangka Suap Proyek Pemerintah di Bengkayang    KPK Tetapkan 7 Tersangka Suap Proyek Pemerintah di Bengkayang

#KPK #ott #Perikanan #Kasus Suap #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar