Begini Hukumnya Jika Orang Tua Memaksa Anak Gadisnya Menikah...

Ilustrasi Menikah (popbela.com)

Arah - Agama Islam mengajarkan umatnya untuk memelihara keturunan (hifdhun-nasl). Oleh karena itu Islam mensyariatkan pernikahan sebagai sarana untuk memelihara keturunan,bagi orang-orang yang sudah dianggap layak dan memenuhi yang sudah ditetapkan dalam pandangan Islam.

Tujuan pernikahan salah satunya adalah untuk menghindari perbuatan zina. Dalam Islam, pernikahan tidak boleh dilakukan dengan cara serampangan alias asal-asalan, melainkan harus dengan tata cara yang sudah ditetapkan dalam Islam. Di antara ketentuannya adalah adanya wali. Menurut madzhab Syafii, wali menjadi salah satu rukun nikah. Karenanya pernikahan tidak dianggap sah kecuali ada walinya.

“Wali adalah salah satu rukun nikah, maka nikah tidak sah tanpa wali” (Taqiyyuddin al-Husaini al-Hushni, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar) Namun disinilah kemudian muncul persoalan, bagaimana jika seorang ayah memaksa anak gadisnya yang sudah dewasa untuk menikah dengan pilihan sang ayah karena dipandang sepadan (kufu`), padahal di sisi lain si gadis sudah punya pilihan lain yang ia anggap juga layak?

Baca Juga: Enam Tips Generasi Millenial Istiqamah Menunaikan Salat Tahajud
Inilah 7 Golongan Manusia Yang Mendapatkan Syafaat di Hari Kiamat

Dari sini kemudian biasanya muncul ketidakharmonisan hubungan anak dan ayahnya. Menurut madzhab Syafii sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Kifayah al-Akhyar dikatakan sebagai berikut;

“Dan disunnahkan meminta izin gadis yang sudah dewasa karena adanya hadis (yang menjelasakan hal itu)”. (Taqiyyuddin al-Husaini al-Hushni, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar) Maksudnya adalah disunnahkan bagi seorang ayah untuk meminta persetujuan kepada anak gadisnya yang sudah dewasa. Pandangam ini karena didasarkan kepada hadits;

“Dan perempuan yang masih gadis (sebaiknya) dimintai izin, sedangkan izinnya adalah diamnya” (H.R. Muslim) Hal ini juga pernah dibahas dalam Muktamar ke-5 di Pekalongan pada tanggal 7 September 1930. Hasil keputusan tersebut adalah boleh, tetapi makruh, sepanjang tidak ada kemungkinan akan timbulnya bahaya. Keputusan ini didasarkan kepada kitab Tuhfah al-Habib:

“Adapun sekedar ketidaksukaan wanita tanpa hal yang dharuri (terpaksa), maka tidak berpengaruh, (terhadap keabsahan perkawinan), akan tetapi dimakruhkan bagi walinya untuk mengawinkannya sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab al-Umm.

Disunahkan meminta izin kepada perawan jika memang sudah dewasa berdasarkan hadis Muslim;

“seorang ayah harus meminta persetujuan dari anaknya yang masih perawan”. Hadis ini dipahami sebagai “sunnah” demi menghargai perasaan”.

Jika permintaan izin atau persetujuan seorang ayah kepada anak gadisnya merupakan sebuah kesunnahan, maka lebih lanjut penjelasan dalam kitab Kifayah al-Akhyar menyatakan bahwa izin dari seorang gadis perempuan dewasa jika yang menikahkan selain ayah dan kakek adalah sebuah keharusan.

Ini artinya wali selain ayah atau kakek tidak bisa menikahkan tanpa persetujuan dari si gadis tersebut. Hal ini sebagaimana yang dipahami dari ibarah dibawah ini:

“Apabila yang menikahkan (gadis) selain bapak dan kakeknya maka harus mendapatkan izin si gadis setelah baligh (dewasa)” (Taqiyyuddin al-Husaini al-Hushni, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar)

Berita Terkait

Jangan Asal Dalam Berdoa, Inilah Adab Berdoa Agar Dikabulkan Jangan Asal Dalam Berdoa, Inilah Adab Berdoa Agar Dikabulkan
Apakah Manusia Buang Air Ketika Berada di Surga? Ini Jawabannya Apakah Manusia Buang Air Ketika Berada di Surga? Ini Jawabannya
Sampaikan Pesan Islam Toleran di Indonesia, Lima Ulama asal Jabar Sampaikan Pesan Islam Toleran di Indonesia, Lima Ulama asal Jabar

#pernikahan #Pernikahan islami #Ulama #muslim #muslimah #hadis #islam #Hukum Islam #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar