Walhi Sebut Proyek Kereta Cepat Munculkan Masalah Lingkungan

ilustrasi kereta cepat (Foter/Tokyoform)

Arah -  Walhi Jawa Barat menyatakan proyek pembangunan kereta api (KA) cepat Jakarta-Bandung takkan rampung pada akhir 2020. Hal itu disebabkan masih banyak permasalahan yang belum diselesaikan, baik secara analisa dampak lingkungan dan non teknis lainnya oleh pihak PT KCIC.

Menurut Direktur Walhi Jawa Barat Meiki W Paendong, masalah yang pertama adalah belum jelasnya soal pembebasan lahan meski pemerintah telah mengklaim hampir semuanya terselesaikan. Namun faktanya sebut Meiki, masih banyak warga yang mengeluh soal ketidakjelasan pembebasan lahan ini.

“Misalnya di daerah kawasan Bekasi, itu kan tabrakan dengan Sutet. Lalu ada juga pembebasan lahan yang masuk di trase, rute yang masuk di perusahaan - perusahaan pabrik  milik Jepang ya. Maksudnya konteksnya bukan mau dibenturkan dengan permasalahan persaingan diantara Jepang dan Cina. Dan yang terakhir, pembebasan lahan di daerah Padalarang itu juga masih bermasalah kan ?,” kata Meiki melalui telepon, Bandung.

Meiki menjelaskan kondisi tersebut terjadi akibat minimnya informasi yang diberikan oleh PT KCIC sebagai pelaksana proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Belum lagi didukung oleh materi analisa dampak lingkungan (Amdal) yang serampangan.

Meiki mengatakan akibat materi Amdal yang tidak mumpuni, terjadi kerusakan lingkungan di daerah pembangunan konstruksi. Salah satunya di kawasan pembangunan terowongan di Walini, Ciwidey, Kabupaten Bandung.

“Mereka membuang limbah konstruksinya itu langsung ke sungai. Saya lupa nama sungainya tapi itu langsung mengarah masuk kebagian DAS Citarum yang bermuara ke Sungai Anak Citarum. Dan ada juga laporan dari warga setempat soal ketidakjelasan tempat tinggalnya tergusur atau tidak. Kalau pun tidak tergusur, dampak polusi kebisingan nanti akan tejadi,” ujar Meiki.

Meiki bilang terdapat pula dampak lingkungan akibat pembangunan terowongan di Gunung Bohong, Kota Cimahi. Pembangunan konstruksi terowongan di kawasan tersebut menggunakan pola peledakan.

Baca Juga: Puan Maharani: Ada Beberapa Tantangan yang Dihadapi Kapolri Baru
Ciuman Yusuf Mansur untuk Seorang Supir Bajaj, Subhanallah...

Akibatnya, bangunan tempat tinggal warga setempat mengalami retak. Meski rumah warga tersebut tidak terkena gusuran. Belum lagi sebut Meiki, pembangunan konstruksi yang mengenai pipa Pertamina di Cimahi.

“Nah itu kan, dampak - dampak yang muncul sebagai gambaran bahwasanya, komitmen mereka dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup itu sangat buruk. Dan juga menggambarkan kualitas analisis dampak lingkungan mereka yang tertuang dalam dokumen Amdal itu juga ya tidak berkualitas,” ucap Meiki.

Bahkan sebulan lalu, Walhi Jawa Barat menerima laporan dari warga Tegalluar, Bojongsoang, Kabupaten Bandung bahwa proses pembangunan konstruksi PT KCIC menutup aliran anak sungai kecil yang digunakan. Warga melaporkan hal itu karena ketakutan akan terjadinya banjir pada saat musim penghujan tiba.

Sebab, saat turun hujan beberapa waktu hari lalu sudah terjadi beberapa genangan di daerah tersebut. Pasalnya aliran anak sungai kecil tersebut terhambat, karena PT KCIC sampai saat ini belum membuat alternatif drainase yang lain. /Arie Nugraha/

Berita Terkait

Teknologi Cerdas Dukung Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Teknologi Cerdas Dukung Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya
Daftar Nama Korban Tewas Akibat Crane Jatuh Daftar Nama Korban Tewas Akibat Crane Jatuh
Ini Usulan Tarif Tol Layang Jakarta-Cikampek  dari Kemenhub Ini Usulan Tarif Tol Layang Jakarta-Cikampek dari Kemenhub

#Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) #Air Sungai #Rel kereta #kereta cepat #Kereta Cepat Jakarta Bandung #Kemenhub #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar