Demokrat: Mafia Migas Ibarat Hantu Genderuwo, Ditakuti Tapi Tak Kelihatan

Anggota Komisi VII DPR Sartono Hutomo (Foto/Antara)

Arah - Anggota Komisi VII DPR Sartono Hutomo menyebutkan hingga saat ini belum ada mafia migas diperangi oleh pemerintah, sehingga dirinya menyambut baik niat pemberantasannya agar sektor ini bisa berkontribusi maksimal terhadap ekonomi nasional termasuk mengurangi beban impor.

"Setelah Petral dibubarkan dan kemudian Satgas Mafia Migas dibentuk, sepengetahuan kita belum ada yang di-'gigit' atau diperangi, karena seperti dugaan banyak orang, bahwa mafia migas ini seperti hantu genderuwo, ditakuti tapi tidak kelihatan," kata Sartono dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu(18/1).

Menurut politisi Partai Demokrat ini, selepas pembubaran Petral pada 2015, dirinya belum melihat lagi perhatian yang serius dari pemerintah dalam rangka memerangi mafia migas, sehingga bisa diduga mafia tersebut masih tetap ada.

Namun, pada awal periode keduanya memimpin Indonesia, Presiden Joko Widodo telah terang-terangan akan memerangi mafia migas.

Baca Juga: Ini Sosok Milenial yang Diincar Jokowi untuk Pimpin Ibu Kota Baru
Dear Para Gubernur, Dengar Nih Arahan Presiden Soal Penanganan Banjir

Saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrembangnas) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 pada akhir 2019 lalu, Presiden Jokowi mengaku sudah mengetahui siapa saja pihak yang mendapatkan keuntungan tidak wajar dari hasil impor minyak dan gas.

Jokowi pun mengingatkan pihak tersebut untuk berhati-hati. Hal itu pun ditindaklanjuti Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko. Mantan Panglima TNI ini mengelar pertemuan dengan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purmana atau Ahok yang salah satu agendanya membicarakan mafia migas.

Sartono melanjutkan, pihaknya mengapresiasi langkah itu, namun dia menunggu langkah selanjutnya dari pemerintah dalam upaya memerangi mafia migas.

"Kita apresiasi, keinginan tersebut. Apapun istilahnya, mau itu perang, atau yang terbaru mau meng-'gigit'. Yang penting konsisten," jelas dia.

Moeldoko bertemu Ahok di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (14/1/2020), yang salah satu agenda pembahasannya adalah penyelesaian mafia migas.

"Beliau (Presiden Jokowi) sudah sering muncul dengan kata-kata yang begitu keras (soal mafia migas). Saya pikir jangan sampai ke Presiden lah, kalau perlu 'menggigit', ya saya duluan yang menggigit, jangan Presiden duluan," tegas Moeldoko.

Sartono menambahkan, untuk itu, perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dengan Pertamina agar keinginan Jokowi memberantas mafia migas bisa terealisasi.

"Kami ingin melihat bagaimana pemerintah mengelola isu-isu strategis, khususnya di Pertamina yang relatif selalu muncul dan kami tadi sepakat dengan beliau (Ahok) untuk mari kita berkolaborasi agar semuanya nanti terkelola dengan baik," ungkap dia.

Sementara itu, Ahok memastikan akan bekerja untuk mencapai keinginan Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta telah mengantongi dukungan dari Moeldoko untuk membasmi mafia migas.

Ahok mengaku Pertamina sudah memiliki jalan keluar menurunkan harga migas. Namun, dia meminta agar hal itu ditanyakan langsung ke Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

"Kami sudah ada rumusnya, nanti tanya kepada Dirut lah, kan aku kan cuma komisaris," tutur Ahok.

Berita Terkait

Penambahan Anggota DPR Diyakini Tak Akan Bebani Negara Penambahan Anggota DPR Diyakini Tak Akan Bebani Negara
Demokrat Pilih Ahok atau Anies? Bola Panas Ditangan AHY Demokrat Pilih Ahok atau Anies? Bola Panas Ditangan AHY
Tegas,Demokrat Tolak Amanademen UUD 45 Terkait Pemilihan Presiden Tegas,Demokrat Tolak Amanademen UUD 45 Terkait Pemilihan Presiden

#Partai Demokrat #Anggota DPR RI #Mafia Migas #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar