Korsel Terlibat Pembanginan Proyek LRT Bandara Ngurah Rai

Plt Direktur Utama Nindya Karya Haedar A. Karim (kedua kanan), Executive Director KIND Lim Han Gyu (tengah), Executive Director KRNA Son Byeong Doo (kedua kiri) menandatangani nota kesepahaman pembangunan LRT ruas Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, disaksikan Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM Ikmal Lukman (kanan) di Jakarta, Selasa (22/1/2020). (Antara/Ade Irma Junida)

Arah -Korea Selatan akan ikut terlibat dalam proyek pembangunan Light Rapid Transit (LRT) sepanjang sekitar 3,5 km yang menghubungkan kawasan Kuta dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Proyek pembangunan LRT dengan nilai investasi sekitar 400 juta dolar AS (sekitar Rp5 triliun) itu merupakan proyek PT Angkasa Pura I yang dibangun atas kerja sama dengan PT Nindya Karya (Persero), Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) dan Korea Rail Network Authority (KRNA).

Realisasi proyek tersebut dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Nindya Karya dengan KIND dan KRNA yang digelar oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Penandatanganan dilakukan Plt Direktur Utama Nindya Karya Haedar A. Karim, Executive Director KIND Lim Han Gyu, Executive Director KRNA Son Byeong Doo serta disaksikan Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM Ikmal Lukman.

"Investasi proyeknya kurang lebih Rp5 triliun, tapi ini masih (hitungan) pra-FS (feasibility study/studi kelayakan). Proyek ini murni B to B, jadi tidak ada loan (pinjaman). Artinya, kita pasang duit semua," kata Haedar.

Haedar mengatakan nantinya pihaknya dan Korea Selatan akan bertemu dengan Angkasa Pura I untuk membahas detail proyek pada Rabu (22/1/2020) sekaligus melakukan penandatangan nota kesepahaman proyek.

Dia menjelaskan nantinya LRT akan dibangun di bawah tanah mengikuti ketentuan budaya di Bali yang tidak mengizinkan adanya bangunan tinggi. Meski diakuinya, pembangunan dengan konstruksi di bawah tanah memang membuat biaya proyek menjadi lebih besar.

Pembangunan LRT yang diharapkan dapat mengurangi kepadatan Bandara Ngurah Rai itu ditargetkan bisa dimulai pertengahan tahun dan selesai dalam kurun waktu 1,5 hingga dua tahun.

"Paling lama tiga bulan setelah tanda tangan MoU dengan Angkasa Pura I, kita mulai FS (studi kelayakan). Tapi kita usahakan tahun ini sudah mulai konstruksi," imbuhnya.

Baca Juga: Kasus Jiwasraya, Pemerintah Disarankan Lakukan Skema PMN
Ini 12 Proyek Migas yang Dijadwalkan Berjalan pada 2020

Sementara itu, Executive Director KRNA Son Byeong Doo menilai penandatanganan nota kesepahaman itu menjadi komitmen bersama kedua negara untuk meningkatkan investasi.

"Kami akan lakukan yang terbaik untuk proyek ini," ujar Son Byeong Doo.

KIND merupakan organisasi yang dibentuk untuk mendorong secara proaktif bisnis dengan skema kerja sama pemerintah dan swasta atau Public-Private Partnership (PPP), terutama investasi Korea Selatan di luar negeri. Sementara KRNA pernah terlibat dalam proyek LRT Jakarta.(ant)

Berita Terkait

Jakarta Dinilai Belum Menjadi 'Kota Ramah Bersepeda' Jakarta Dinilai Belum Menjadi 'Kota Ramah Bersepeda'
LRT Sudah Bisa Digunakan Bertepatan HUT DKI Jakarta ke-492       LRT Sudah Bisa Digunakan Bertepatan HUT DKI Jakarta ke-492
Teknologi Cerdas Dukung Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Teknologi Cerdas Dukung Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

#lrt #Bandara Ngurah Rai #Transportasi #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar